SOSIAL : MENOLAK LUPA, AKSI KAMISAN MENJADI RUANG BERSUARA



TRUSTMINUTES - Kamis, 6 September 2018 di depan kantor DPR diadakan aksi orasi yang sudah menjadi rutinitas pada hari Kamis di depan kantor DPR tepat pada pukul 16.00-18.00 WITA. Aksi serta orasi ilmiah tersebut dilakukan oleh relawan yang ingin menyuarakan suara rakyat dengan grand isu tentang pelanggaran HAM (hak asasi manusia) serta kasus-kasus momentuman yang belum dituntaskan oleh Negara.

Aksi Kamisan Kaltim tersebut dijalankan oleh para relawan dari berbagai unsur atau latarbelakang yang ingin menyuarakan suara mereka terhadap pemerintah. Sementara di aksi Kamisan Kaltim hanya dijalankan dengan struktur kepengurusan yang diketuai oleh Kahal Al Bahri atau yang kerap disapa bang Ocha.

Berdirinya aksi Kamisan Kaltim pada awalanya dipelopori oleh Ocha selaku ketua. Hal ini dilakukan Ocha dan kawan-kawan setelah sempat turut bersolidaritas di aksi Kamisan Jakarta yang menuntut hak dan permasalahan rakyat dengan grand isu yaitu tentang HAM yang sedikit banyaknya aksi kamisan tersebut terselenggara dengan dipelopori oleh ibu Sumarsih, dimana anaknya menjadi korban keberingasan Negara pada tragedi Semanggi.

Aksi Kamisan di Jakarta sendiri telah berdiri pada tahun di penghujung tahun 2006, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), yaitu sebuah paguyuban korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) mengadakan sharing bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) untuk mencari alternatif kegiatan dalam perjuangan rakyat.

Pada pertemuan hari Selasa, tanggal 9 Januari 2007, bersama Kontras dan JRK, disepakati untuk mengadakan suatu kegiatan guna bertahan dalam perjuangan mengungkap fakta kebenaran, mencari keadilan dan melawan lupa. Sebuah kegiatan berupa “Aksi Diam” sekali dalam seminggu menjadi pilihan bersama. Bahkan disepakati pula mengenai hari, tempat, waktu, pakaian, warna dan mascot sebagai simbol gerakan.

Melihat perkembangan bagaimana aksi kamisan tersebut berjalan membuat Ocha berjanji pada ibu Sumarsih akan mendirikan aksi Kamisan di Kaltim, bukan hanya sebagai solidaritas namun juga sebagai bentuk penyadaran terhadap masyarakat bahwa ternyata banyak permasalahan yang dilanggar oleh pemerintah. “Ya, sebagai rakyat kita harus bersatu untuk menyuarakan hak kita agar tercapainya perubahan yang lebih baik, perjuangan ibu Sumarsih harusnya kita dukung dengan bersolidaritas dan berani terjun untuk menyampaikan kersesahan-keresahan kita sebagai rakyat”  ujarnya.
Penulis: Aji Yogi Setiawan
Redaktur: Jeri Rahmadani






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOSIAL : KELUHAN BANJIR DARI TAHUN KE TAHUN

OLAHRAGA : PENYUMBANG MEDALI EMAS DARI UKM PSHT UNMUL

OLAHRAGA : MAHASISWI UNMUL BAGIKAN PENGALAMANNYA SAAT BERLAGA DI ASIAN GAMES 2018